"sunyi menambah suasana ngilu di penghujung kerinduan"
ah sudahlah, gumamku. Untuk apa lagi harus menunggu berita yang tak pasti. Bukan tak menyentuh hati kata yang sering terucap dari bibirku, aku pun merinding setiap mengatakannya.
"kring-kring" suara telepon membangunkan pagiku, ku kira ada apa, eh ternyata itu hanya halusinasiku saja yang kupikir telepon genggam ku berbunyi, mungkin ini efek dari semalaman aku memikirkannya dan berharap dia menghubungiku.
sejenak aku termenung, hendak menghubunginya terlebih dahulu, tetapi "ah kemarin kan aku sudah menghubunginya, tetapi tak ada balasan, dan sekarang kenapa aku harus menghubunginya lagi?" pikirku, dan egoku tak bisa kukalahkan.
Aku menarik handuk yang tergantung disudut kamarku dan pergi untuk mebenah diri.
"dreetdreeet" ah dimana tadi kuletakkan teleponku? sibuk kumencarinya, ternyata terjatuh dibawah kolong kasurku. Kubuka pesan singkat yang masuk, sial itu dari operator bukan dari kekasihku! aku kembali mengirim pesan singkat "sayang kamu dimana? kenapa dari kemarin kamu susah dihubungi?" kepada kekasihku.
Satu jam kumenunggu balasan itu darinya tetapi tak kunjung dibalasnya, tiga jam kemudian baru dibalasnya "maaf sayang aku lagi sibuk" apa-apaan ini? hanya kata itu yang bisa diberitahunya? akupun juga sibuk, tapikan aku masih sempat memikirkannya, apa dia sudah tak ingin lagi bersama? emosiku mencuat tak karuan dan kembali kubalas pesannya "kamu sibuk sayang? akupun juga sibuk, sesibuk apa kamu yang? mungkin aku bisa membantu, aku rindu sayang" pesan itu terkirim.
Tak ada balasan hingga esok harinya. Senja mulai tiba dan aku duduk termenung dipinggiran teras rumahku, sejenak aku mengingat sudah sebulan terakhir ini dia mulai menjauh, entah apa salahku, kutanya tentangnya kepada sahabatnya pun sahabatnya tak memberi jawaban pasti layaknya bibirnya sudah terkunci.
Kuberanikan diri mendatangi rumahnya, dengan hati yang gelisah aku maju. Yang kutahu orang tuanya tak setuju aku menjalin kasih dengannya, itu kudapati saat kekasihku memberi tahukan akan hadirku kepada orang tuanya dan orang tuanya melarangnya untuk berhubungan denganku. Dengan semangat pejuang lelaki aku kaku, ya bagaimana? orang tuanya tak setuju akan hadirku, dan aku tetap memaksakan. Entahlah, entah apa yang terjadi nanti yang terpenting aku sudah mendatanginya, mencarinya, dan mendapati akan kabarnya.
"tok-tok" kuketuk rumah kekasihku itu, lama kutunggu
hingga seorang ibu tua renta datang menghampiri membukakan pintu itu untukku " anda siapa?" tanyanya "saya temannya fara, faranya ada bu?" jawabku, ya kekasihku bernama Fara Hanisyah, kembali ibu tua renta itu menjawab "non faranya lagi pergi bersama tuan dan nyoya" oh tuhan ternyata ibu tua ini hanyalah seorang pembantu yang mengurusi rumah ini, kupikir ia adalah ibunya fara kekasihku "ada perlu apa ya?" kembali tanyanya, "tidak ada bu, nanti kalau faranya sudah kembali tolong beri tahu saya Arzha datang ingin menemuinya","oh iya nanti akan saya sampaikan"jawabnya. Dengan langkah kaki yang amat teramat berat, seperti melayang tempat kaki berpijak aku berangsur pergi dari kediaman kekasihku itu.
Memang aku dan kekasihku fara berbeda, bagaimana tidak? dia anak seorang pengusaha, sedangkanku hanya seorang anak buruh tani, pantaslah orang tuanya tak setuju anaknya berhubungan denganku. kalau saja aku tak mendapat beasiswa dari kampus toh aku tidak akan kuliah, dan kini aku sudah semester 5, kekasihku fara di semester 3. Aku berkenalan dengannya sewaktu SMA dan menjalin kasih dengannya sudah hampir 2 tahun.
Kudapati isu berkembang dari temannya, lina namanya dia memberi tahuku untuk menjauhi fara "kenapa?" tanyaku padanya. "sudahlah zha, jangan harapkan ara lagi" jawabnya, aku masih bingung dan kembali bertanya "sebab apa aku harus menjauhinya? diakan masih kekasihku, kau tak berhak melarangku untuk manjauhinya" ketusku, "bukan begitu zha, tak kah kau tau sudah hampir sebulan ini dia menjauhimu?, kau tahu penyebabnya apa? hah?", "akupun tak tau, setiap kutanyakan itu padanya diapun enggan memberi jawaban, seakan tergantung aku diatas sebuah jembatan, memangnya kenapa? kau tau! tetapi kenapa dari kemarin tak memberi tahuku? jawab aku lin" tegasku, "itu zha, sudahlah jauhi saja ara, kau terlalu baik untuknya" jawabnya, "tolong jangan seolah-olah menggantungkan ku, beri aku jawaban yang pasti, untuk apa aku menjauhinya? toh kami juga saling menyayangi","kenyataannya pahit zha, dunia ini kejam, ara bulan depan akan menikah" jawabnya dengan nada melemah, "gak mungkin, kau sedang bercanda bukan? mana mungkin dia kan menikah, ya nantinya dia menikah pasti denganku!", "sudah kuberi tahu, diakan menikah dengan pria dari negeri sebrang sana, dia anak dari kolega papanya ara zha, mereka sudah dijodohkan" kembali jawabnya, " gak mungkin lin,gak mungkin" jawabku gelisah dan tanpa sadar air menetes jatuh ke permukaan pipiku. Langkah kakiku tak tau arah, mungkin kakiku sudah lelah menopang berat badanku, terlebih lagi hatiku yang kini ransanya semakin berat sebab-sebab yang membuat keguncangan dijiwa.
Senja berganti, malam mengusik jiwaku, semilir angin masuk melalui celah jendela kamarku yang membuat suasana semakin menggigil. Bagaimana ini, sayang? Bayanganku saja enggan menemaniku, di kamar gelap ia menghilang. kini kau jua ingin menghilang? takkah kau sedih melihat aku sendiri disini?, gumamku pilu. kutanyakan kepastian itu pada ara, kuhubungi teleponnya, anehnya kini ia mengangkatnya, berbeda dengan hari kemarin yang seolah enggan untuk mengangkatnya "sayang, benarkah itu? benarkah yang dikatakan lina?"tanyaku memburu, "maaf zha,maaf, akhiri saja, lupakan aku, cari wanita yang lain, maaf zha" jawabnya, tanpa harus aku memberi pertanyaan lagi terhadapnya, telepon itu sudah di putus olehnya, dan rasanyapun hatiku putus dari tubuhku. Kucoba kembali menghubunginya, tetapi ia seperti sudah tahu akan aku ingin menghubunginya, teleponnyapun tak bisa ku hubungi kembali.
Sejak itu, ngilu rasanya hati ingin memuja, pedih rasanya jiwa ingin melangkah, buram rasanya dunia seakan tak ada sinar memancar, terlebih lagi dimalam hari ingin pelukan hangat saat bersama, ya mungkin hanya sisa rasa, rasa saat bibir beradu dengan indahnya seakan duniapun cemburu saat bersama. Kini hanya sebuah kenangan, yang semakin ingin aku melupakan semakin terbayang diingatan, smudah itu kau putuskan, tak semudah itu aku melupakanmu sayang.