Minggu, 06 Juli 2014

Jangan harapkan aku lagi

Dua tahun lamanya aku menjalin kasih dengannya. Dia adalah sesosok pria yang mampu membuat kehidupanku menjadi berubah lebih baik, tetapi dia jugalah yang membuat hidup ini melemah tak berdaya.

Jarak rumahku dan rumah kekasihku memakan waktu selama dua jam dalam perjalanan. Kami jarang sekali bertemu, bisa dibilang hubungan kami layaknya LDR karena untuk bertemu saja susahnya minta ampun. Namaku sendiri adalah tiara, dan nama kekasihku revaldi. Kami memulai hubungan kasih tanpa haru bertatap mula terlebih dahulu, kami berkenalan lewat sosial media, lebih tepatnya twitter. Itupun aku dikenalkan oleh temanku sendiri, tika namanya. Setelah kurun waktu empat bulan kami menjalin kasih, aku dan aldipun memutuskan untuk bertemu, kami janjian di salah satu tempat makan di sekitar tempat tinggalku. Anehnya dia menemuiku dengan membawa temannya, ya mungkin karna jarak yang lumayan jauh ke tempatku itu makanya dia membawa teman. Saat pertama kali bertemu aku sudah dikagetkan olehnya, bagaimana tidak? Tiba-tiba dia langsung mencium keningku tanpa permisi terlebih dahulu. Aku kaget bukan kepayang, rasanya melayang, dan bibirku menyimpulkan sebuah senyuman.
"Aldiiii, apa-apaan sih? Malu tau!" Kataku.
"Ya tak apalah, namanya juga sama pacar sendiri, emangnya ada yang marah gitu? Hayo siapa yang marah rupanya? Tak adakan?" Jawabnya sambil meledek.
"Kalau kalian berdualah, tak ada segannya sedikitpun samaku. Akukan juga pengen" sambut teman aldi secara sepontan.
"Hahaha, suruh siapa kau masih jomblo aja" jawab aldi kepadanya.
Kami bertiga makan malam bersama sambil mengobrol-ngobrol terkadangpun obrolan kami malah meledek temannya aldi yang masih jomblo itu.
Selesai makan dan mengobrol jam menunjukkan pukul 21.30 kini waktunya aku untuk pulang kerumahku. Aldipun mengantarkanku pulang menggunakan sepeda motorku dan temannya membuntuti kami dari belakang. Setelah sampai dirumahku aldi langsung pamit untuk pulang kerumahnya.

Dalam hubungan kami, kami berjumpa sangatlah jarang, mungkin karena jarak dan kesibukan masing-masing, dengan begitupun aku makin sayang dan lebih sayang lagi kepadanya, begitu pula dengan dirinya.
Pada sampai dimana usia hubungan kami mau beranjak dua tahun aldi malah bersikap aneh, dia mulai mencari masalah bahkan dia mau memutuskan diriku dengan bertemu langsung denganku. "Apakah dia bosan terhadapku? Apa dia lelah sama hubungan ini? Atau dia punya yang baru?" Kata itulah yang pertama kali menghantui pikiranku.
Aku menolak untuk berpisah dengannya, aku menangis dihadapannya, kupukuli dirinya hingga diapun tak bisa menolak pukulanku itu. Kutanyakan "kenapa? Kenapa al? Kenapa kau tega? Kita juga slama ini tak ada masalah, kalaupun ada kita selesaikan dengan baiklah, jangan kamu minta putus denganku seperti ini". "Sudahlah ra, aku lelah. Baiklah kita jalani sajalah lagi" jawabnya ketus.
Mungkin dia tak jadi putus denganku karna aku menangis langsung dihadapannya, itulah senjata wanita, lelaki takkan tega melihat wanitanya menangis.
Hari demi hari berlalu dan hubungan kamipun menjadi baik lagi seperti semula, walaupun dulu ia pernah ingin memutuskanku tanpa sebab. Karna aku wanita, aku mencintai dengan tulus, dengan semua rasa dan keyakinan yang ada. Mungkin berbeda dengan lelaki ia mencintai dengan menggebu, pada akhirnya terkadang ia bosan dan ingin melupakan.

Suatu hari aku mendapati kabar bahwa ibu kekasihku aldi sedang sakit dan dirawat dirumah sakit. Aku datang menjenguk ibunya dengan membawa beberapa kantong pelastik yang berisikan makanan.
Setelah menjenguk ibu kekasihku itu aku diantar menuju parkiran rumah sakit tersebut, dalam perjalanan aldi berkata "ra, udahan ya". "Udahan apa sih al?" Jawabku. "Udahan kita berakhir" katanya, "jangan bercanda lagi deh al" jawabku sambil sedikit tertawa. "Aku serius ra, sebenarny....ehmmn, aku mau jujur samamu" kata aldi. "Jujur kenapa"tanyaku. "Kita putus saja! Aku sudah kembali dengan mantanku" katanya lagi. "Mantan siapa? Si fika itu?" Tegasku. "Iya ra, maaf. Jangan nangis lagi karna aku, aku gak mau liat kamu nangis. Aku sebenarnya capek menutupi ini ra!" Kata aldi. "Tega kau al! Tega kalian berhubungan lagi dibelakangku, cukuplah jangan lagi kau dekati aku! Oke, aku pergi, jangan pernah kau hubungi aku lagi! Kalian berdua itu binatang!" Jawabku sambil berlari. Aldipun tak mencegah kepergianku, mungkin dia benar-benar ingin melepasku.

Tiga minggu berlalu sejak kejadian itu aldi tiba-tiba saja menghubungiku, katanya ia ingin bertemu. Puluhan kali ia mencoba menelepon, dan puluhan kali ia juga mengirim pesan kepadaku. Hati wanita mana yang tidak terluka jika ditinggalkan sewaktu masing sayang? Kini aku sudah mulai melupakannya, eh malah dia sibuk menghubungiku. Tapi dengan begitupun aku luluh, saat ia kembali menelponku kini aku mengankatnya.
Aldi: tiara
Aku: ya, kenapa?
Aldi: maafin semua kesalahanku, aku menyesal
Aku: simpan maafmu itu, aku tak ingin mengumpulkan lagi kata maaf darimu
Aldi: jangan marah lagi denganku, sungguh kini aku menyesal
Aku: aku tak marah padamu, aku hanya ingin kau tak lagi menghubungiku
Aldi: aku rindu ra
Aku: tak, aku tak pernah rindu lagi terhadapmu, sudahya.
Akupun mematikan telepon itu.

Sejak kejadian itu aku mulai mentertawakannya, mulai berhenti menangis untuknya. Karna aku tahu di kehidupab mendatang akan ada pria yabg terbaik untukku. Aldi sudah memiliki kekasih yang baru, tetapi dia masih sayang kepadaku. Apa itu salahku? Rasaku tidak! Dia yang terlebih dahulu mencampakkanku hingga aku terpuruk dan beranjak untuk bangkit dan lebih semangat lagi.

Sesalmu akan berujung selamanya dan kebahagiaanku akan kuraih kedepan dan bahagia selamanya. Akibat perbuatan akan ada balasannya, rindui dan sayangi saja aku terus, itu tak masalah, yang mungkin akan kupermasalahkan adalah jika aku kembali merinduimu dan menyayangimu.

Sabtu, 05 Juli 2014

Selingkuh dengan kekasihku yang dahulu

MyBrownis, yah.. Itu lah sebutan untuk si hitam manis yang pernah singgah dihidupku, sebut saja namanya Tio.
Singkat cerita. Sebut saja aku ratu , yang mungkin pernah tergila-gila dengan Lelaki satu ini. Cukup mudah bagiku untuk mendekatinya, step by step aku bisa menarik perhatiannya. Aku mulai dengan cari tahu dia orang mana, tak lama aku mendapat nomor hpnya, ya semua itu juga butuh teman untuk mendapatkannya.

Ku coba memberanikan untuk menghubunginya terlebih dahulu (viasms),
"Hai",kataku
"Hmmm"jawabnya
Ooh tuhan secuek inikah lelaki ini, pikirku dalam hati.
Cukup sampai disitu aku sms dia, keesokan harinya ku coba lewat dari depan kelas Tio.ya, tepatnya kami berada di satu sekolah yang sama, dia adlah adik kelasku, tapi tak salahkan jika aku mencintai adik kelas? Toh cinta kan tak pandang bulu. Jika sudah cinta, ya cinta! Hal buruk dari diapun kalau sudah begini menjadi baik untukku. kulihat dia sedang berdiri di depan kelas.
Kebetulan pikirku, tak ku sia-siakan kesempatan ini, ku coba lirik dia dengan penuh arti. Haha seperti puisi saja. Kulihat senyumnya, dengan style jaket khasnya sampe sekarang yaitu jaket berwarna abu-abu.
"Ooh detak jantungku serasa tak beraturan melihatnya"
Senyumnya.. Postur tubuhnya.. Ooh. Ah sudah lah.
Ku lewati dia dan aku segera kekantin untuk membeli makanan favoritku.

Waktu kewaktu pun berlalu, aku dan tio pun mulai lancar berkomunikasi, sampai-sampai kami pun menjalin hubungan spesial tanpa ada kata "ditembak" atau dia menyatakan cintanya kepadaku.
"Hhhmmmm, tak apa lah " pikirku.
Dia sangat perhatian, pagi siang malam selalu ada kabar, pulang sekolah aku hampir setiap hari diantarnya pulang, ada sedikit rasa bangga memilikinya, karna dia lelaki yang cukup populer di sekolah kami. Hampir setiap hari aku berkomunikasi dengannya, sampai suatu saat aku merasa bosan, jenuh, entah setan apa yang merasukiku.
Terfikirku untuk menjauh darinya. Setelah aku mencari berbagai macam alasan, akhirnya hubungan kami pun renggang.
Ya walaupun dia masih dan terus menghubungiku, memohon untuk kembali kepangkuanku.
"Aku rasa cukup, cukup dengan sifat dia yang tidak ada tegasnya menghadapiku" pikirku dalam hati. Hari ke hari, aku dengar-dengar Tio sudah mendapatkan kekasih yang baru, ya walaupun hasil comblangan saudaranya sendiri.
Saat itu lah aku tidak bisa menerima kenyataan itu.
"Sungguh bodoh aku , kenapa kulepaskan dia begitu saja, kurang apa dia" itu lh kata-kata yang ku sesalkan hampir setiap malam.
aku mencoba untuk kembali kepelukannya, dan akhirnya kami pun sepakat untuk menjalin hubungan diam-diam ( selingkuh) .

Mungkin saat itu aku sangat istimewa dihatinya, aku pun senang bisa kembali kepadanya.
Semua orang juga tau, di simpan seperti apa pun bangkai pasti akan ketahuan.
Mungkin si nina sudah mencium perselingkuhan kami. Ya nina, nama pacar baru Tio.
Akhirnya aku pun melepaskan Tio kepelukan nina. Tahun ke tahun, aku tamat dari sekolah itu, aku melanjutkan kuliah ke ibu kota,
Pada saat tahun-tahun pertama aku kuliah, aku sempat berkomunikasi lagi dengan Tio.
"Senangnya" pikirku.
Disitulah kami meluapkan segala pengalaman yang pernah kami lalui, menceritakan masa-masa bahagia kami.
Aku memang kekasih pertamanya, memang sulit dia melupakanku. Dia mengucapkan itu ke padaku dengan sejujurnya. "OMG, masih seistimewa itu aku  dihidupmu" kataku,
"Iyaa bun "jawabnya. Bunda-ayah adalah sebutan sewaktu kami pacaran dulu (agak noraksih).
Hampir menetes air mataku, mendengar lembut suara tio. Hati ini mendesak ingin bertemu dengannya.
"tapi kapan??" Pikir dalam hatiku.
Aku terhambat oleh kekasihku sekarang, yang hampir lima tahun aku menjalin hubungan.
Ya tio adalah selinganku semasa SMA.
Kembali lagi ke pepatah disimpan sedalam apa pun rahasia pasti akan ketahuan juga. Seperti kejadian beberapa tahun silam. Nina mencium apa yg kami lakukan. Kali ini nina tak tinggal diam, dia mencoba menginbox aku ke via Facebook dengan segala macam caci maki dan segala tuduhan dia lontarkan kepadaku, aku heran entah mendapat keberanian dari mana dia, atau mungkin itu hanya sebuah ketikan teman-temannya.
Tak banyak kata yang ku tuliskan dalam balasan tersebut.
"Ngapain aku merebut pacar orang, tapi kalau orangnya mau, lain cerita"
Mungkin dia hanya terpaku melihat balasanku tersebut. Tak ada balasan lagi setelah berhari-hari kutunggu."haha, masih kecil mau menyaingi kakak, dek? Pacar kaupun itu tak bisa melupakanku dek!" Pikirku dalam hati.

Saat kejadian itu aku menghubungi Tio, dan mengajaknya berjumpa tanpa sepengetahuan kekasihku dan nina.
Kami membuat kesepakatan, agar kami tidak lagi mengganggu hubungan satu sama lain. "jodoh tak akan kemana" kata Tio dan hanya kubalas dengan senyum manisku.

Meski resah dalam hati dan pedih dalam jiwa, aku merasa bangga dengan pernah memilikinya, meskipun kini aku tak bersamanya. Tapi dilain sisi kamipun masih bisa meluapkan rasa sayang kami tanpa sepengetahuan pasangan kami sendiri. Karna aku wanita, wanita yang enggan melupakan kisah, terlebih kisah seseorang yang pernah kupuja.

Dengan akhirnya aku tetap pada kekasihku dan tio dengan nina sampai saat ini.

He isn't my boyfriend, but he's still mine



   Pagi yang cerah menambah semangatku tuk memulai hari ini. Ini adalah dimana hari untukku mulai memasuki sekolah yang baru, tepatnya aku kini sudah SMA. Kata orang sih masa SMA itu masa yang tak akan pernah terlupakan, masa yang bakal ngangenin, masa dimana mulai mencari jati diri, dan masa blablabla lainnya. Awalnya aku sendiri tak percaya, tapi belum dijalani kok udah beranggapan seperti gitu. Haha, aku mulai mentertawakan diriku sendiri.

   Pagi-pagi sekali aku sudah sibuk mengurusi peralatan sekolahku. Maklumlah, baru masuk SMA pastikan ada acara MOSnya. MOS itu nyeribetin, yang kutakutkan nantinya aku dipermalukan sama kakak-kakak senior didepan teman baru, diledekin, dikerjain, dan blablabla. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pusing sendiri, tapi pengennya nanti ada gitu kakak-kakak senior yang ngeMOS ganteng, pengennya sih, namanya juga cewek, pasti gk luputlah dari pemikiran pria-pria ganteng.

   Hidupku sederhana, tetapi dengan begitupun aku sudah disuruh untuk lebih dewasa dan mandiri, bagaimana tidak disuruh mandiri lah mau masuk SMA saja disuruh pergi ke kota. Dikota ngekoslah, makan sendirilah, jauh dari orang tualah, temen juga belum ada, ya namanya juga wanita dari desa tapi walaupun aku dari desa akusih enggak terlalu kampungan ya, yang kalau liat keanehan kota langsung riyuh sendiri.

   Pagi itu aku pergi kesekolah dengan membawa peralatan MOS yang sangat memalukan, disuruh bawa petelah, inilah, itulah, uuh rasanya gimana gitu. Jarak kosan ku dengan sekolah tidak begitu jauh, akusih kesekolahnya cuman berjalan kaki. Kalau mau naik ojek, ya sayang duitnya dikasih sama orang tua juga pas-pasan. Lagiankan kesekolah mau belajar, bukan malah mau bergaya. Tiba disekolah tepatnya pukul 05.30 kami sudah dibariskan oleh kakak senior di Sma itu, kulirik kekanan kekiri tak ada satupun yang ku kenal, dalam pikiranku berkata "mampusnih, gakpunya temankan aku, duh Tuhan mau nangis ajalaah". "Yaelah kakak seniorku kok gk ada yang ganteng sih, inimah namanya serigala semua, cewek semua tapi yaallah mulutnya pedes bener"gumamku. Dan acara siksa menyiksapun dimulai, mulai dari meragain gaya hewanlah, sampek nembak cowoklah, duh malunya. Untung saja aku tak terlalu menonjolkan diriku, kalau enggakkan bisa kenak kerjain sama mereka. Mos itupun berlangsung selama tiga hari, sampai pada hari terakhir sewaktu istirahat, ada seorang lelaki lewat dihadapanku, bibirku tiba-tiba berucap "yaTuhan, sempurna". Seketika lelaki itu menghadapku dan berkata "apa yang kau bilang tadi?", "ehm, itu, eh enggak apa-apa kok kak" jawabku sambil menundukka kepala. Lalu lelaki itupun berkata "awasya, jangan main-main samaku!", seketika aku tertunduk lemas. "ya Tuhaaan, sumpah itu ganteng, keren, cakep, ah segalanyaaaa, jadi pengen macarin" pikirku. Ternyata selidik punya selidik memang benar yang ada dipikiranku, dia adalah lelaki yang populer disekolah itu.

   Setelah MOS selesai kamipun para siswa/siswi baru esok harinyapun mulai belajar selayaknya pelajar. Berhubung sudah dibagi kelasnya sewaktu MOS kemarin itu, jadi hari ini fokusnya sudah belajar. Alhamdulillah, aku mendapati teman sebangku yang baik dan parasnya terlihat lumayan cantik, ya tidak berbeda jauhlah denganku. Dulu sewaktu smp pun aku menjadi idola para siswa diskolahku, ya berarti tampangku tak terlalu buruk untuk dipandang. Disitu kami mulai dengan memperkenalkan diri secara bergantian, wali kelasku seorang perempuan, masih muda dan guru seni pula. Bersyukur nih punya wali kelas yang masih muda karna pastilah mengerti jiwa muda para muridnya nanti.

   Hari berganti demi hari, aku kok belum bertemu juga ya sama kakak kelas yang kemarin itu, itu adalah lelaki yang pertama kali membuat jantung ini berdetak sangat kencang, yang bisa membuat bibir ini berbicara secara spontan, duh bahagianya hayalanku andai aku bisa bertemu dengannya saat ini. Aku dan teman sebangkuku heni pergi kekantin saat istirahat tiba, disana kami memesan dua mangkok bakso dan teh botol untuk sekedar mengganjal perut ini. "Sya, tolong ambilin kerupuk dong disitu" minta heni kepadaku, aku akrab dipanggil oleh teman-temanku dengan sebutan tasya. "Dimana? gak ada kok" jawabku. "Itu dimeja sebelah, aku lagi pengen kerupuk nih, tolongya. Kan kamu yang dekat sama meja itu"sahut heni. "hen, serem ih itu ada kakak kelas, malu ah, udahlah makan yang seadanya aja" bisikku. "Yaelah syaaa syaa" teriak heni. Seketika orang yang ada dimeja sebelahpun mengarahkan perhatiannya ke arah kami berdua. "yaampun, itukan si pria tampan, meleleh hati aku hen" bisikku ke heni. "loh jadi itu yang selama ini kau bilang pria tampan? Haha itusih tetangga aku kali syaaa, kenapa gak bilang dari kemaren-kemaren cobak?" jawabnya. "iya hen? Mas..." tiba-tiba perkataanku terpotong karna pria tampan itu berkata "eh si heni disini", "iya kak, eh ini kak kenalin temen baru aku Bella Anantasya namanya" jawab heni. "hei tasya, andre" sahutnya sambil tangannya mengadah kepadaku, akupun langsung tanggap menanggapinya "eh iya kak andre, tasya". Perkenalan kamipun dimulai dari situ berkat teman baruku heni.

   "Teet teet" bel tanda masukpun berbunyi, kamipun segera kembali ke kelas walaupun aku masih ingin memandangi kak andre, duh sejuk rasa pemikiran melihatnya. Apa aku sedang jatuh cinta? Haha aneh banget sih aku ini yang biasanya gak pernah seperti itu kalau melihat lelaki, tapi ini beda gak seperti biasanya.

   Setiba pulang sekolah, aku menyuruh heni untuk bertamu ke kosanku, sekalian mengerjakan pr matematika. Aku dan henipun pulang bersama dengan berjalan kaki, dan sekali lagi aku melihat ka andre lewat, "heniii, mauu" ucapku kepada heni. "Oalah syaasyaaa mau sama kak andre? Nanti aku comblangin dah, gimana? Mau?"jawab heni. "Is, jangan bercandalah hen" tegasku. "Loh kok bercanda sih sya, seriusan iniloh, haha" jawabnya kembali. Sepanjang jalan menuju kosanpun kami hanya memperbincangkan soal kak andre, ya kuakui mungkin aku sedang jatuh cinta.

   Waktu ke waktupun mulai berlalu, yang dulunya kehidupan hati ini hanya biasa-biasa saja tapi kini mulai bernuansa, ibaratkan sepucuk bunga yang kian lama bermekaran, ya hatikulah saat ini bergema seperti itu. Semakin lama aku dan kak andrepun semakin akrab saja, mulai dari saling tukaran nomor telepon, sampai pernah jalan pulang dianterin naik motor kak andre. Duh senangnya, andai ini berlanjut dan terus berlanjut kedekatan kami layaknya sepasang kekasih, haha gumamku. Kak andre sendiri ternyata sudah punya kekasih, hancur berserakan tak dapat lagi rasanya disatukan kepingan hati yang berantakan mengetahuinya. Heni memberitahukan kepadaku setelah heni bertanya langsung ke kak andre sebenarnya dia sudah punya kekasih atau belum, ternyata sudah mempunyai. Lalu henipun bertanya lagi kepada kak andre "kak, kakak kan udah punya pacar, terus kenapa masih deketin si tasya? Kakak tau sendirikan kalau si tasya ada hati sama kakak. Kakak jangan mainin perasaannya ya", "bukan gitu hen, kakakpun sebenarnya punya rasa samanya, tapikan kakak udah punya pacar jugak, kakakpun bingung hen, mau mutusin pacar kakak, kakak takut pacar kakak nanti sakit hati karna kakak hen, kakak bingung hen bingung" jawab andre. "Loh kakak yang lucuanloh, udah tau punya pacar tapi masih aja deketin si tasya, kan kakak sendiri kan yang tanggung akibatnya ini, bingung sendirikan sama perasaannya, ah entahlah bingung aku liat kakak" jawabnya lagi. "Kakak sayang kali sama tasya semenjak kedekatan kami selama hampir tiga bulan belakangan ini hen, kakak nyaman samanya. Tapi dilain sisipun kakak udah nyakitin perasaan pacar kakak kalok dia tau kakak sama tasya itu dekat, bahkan dekat kaliloh hen, kakak gak bisa kalok mau lepasin tasya gitu aja"sahut kak andre, "sekarang kakak pilihlah mau sama tasya apa lanjutin hubungan kakak sama pacar kakak itu? Jangan dua-duanya kakak embat! Tau ada karma kan kak? Lebih baik sakit sekarang, dari pada nyesal nantinya" jawab heni. "Iya hen, iya" keluhnya.

   Anehnya setelah kak andre memberi tahu kapada heni kalau kak andre sudah punya pacar pada malam harinya setelah itu kak andre datang ke kosanku, menemuiku katanya sekedar ingin berbincang kepadaku. "Tasya?" tanya kak andre. "Iya kak, kenapa?" Jawabku, "maafya kakak udah ngedeketin kamu selama ini, maaf juga kalau tasya pernah sayang sama kakak, kakakpun sayangnya sama tasya" jawabnya, "lah terus kenapa kak? Kakak kan udah punya pacar, tapi kenapa masih deketin tasya kak? Kakak tau gak perasaan tasya saat ini seperti apa? Hancur kak, hancur kalipun" jawabku merintih. "Maaf tasya maaf, kakak sebenarnya sayang kali samamu setelah banyak hal yang kita lalui akhir-akhir ini. Tapi kakak sadar sya, kakak gak baik untukmu, kakak cuma laki-laki yang berengsek, gak guna, maafya" seru kak andre sambil memengang kedua tanganku. "Kak, aku sayang kali sama kakak, jangan jauhin akulah, apa gak bisa kita bersama?" Tanyaku, "dek, kakak gak bakal jauhin tasya kok, jangan nangis gitu, diluaran sanah banyak cowok yang lebih baik dari kakak, tasya silahkan anggap kakak seperti abang kandung sendiri, silahkan sya! Tasya boleh ngadu kok dipundak kakak, pundak kakak akan selalu ada buat tasya, percayalah sya. Kakak tau yang kakak lakuin slama ini salah, tapi kakak harus kembali lagi sama pacar kakak, maaf kalok kakak udah nyakitin hati tasya, maaf sya" jawab kak andre. "kaaak" seketika kepalaku sudah tersandar di pundak kak andre sambil menangis tersedu, kak andrepun mulai menenangkanku. "Sya, i'm not your boyfiend, but i'm still yours syaaa" kata kak andre, "kakak gak bohong kan? Walaupun kita gak ada hubungan kita masih bisa sama kan? Masih bisa main bersama kan?"tanyaku. "Bisa sya, kakak akan jadi milikmu dalam hal yang berbeda nantinya" jawabnya. Perlahan akupun mulai bisa memahaminya, tangisku yang pecah kini mulai mereda.

   Pada akhirnya aku tersadar, mencintai tak harus saling bersama, merindukan tak harus saling merindu, dan keinginan untuk memiliki tak harus selamanya akan didapat. Aku meyakini kata kak andre bahwa "he isn't my boyfriend, but he is still mine" . Apakah itu akan terwujud seiring berjalannya waktu, akupun tak tahu. Kini aku hanya bisa pasrah saja, berharap yang terbaik untuk kami, yang menjadikan kami lebih dan lebih untuk mendewasakan diri. Itu menjadi pelajaranku sewaktu muda. Akhirnya setelah satu tahun lamanya aku mendapati pria yang baik, dan pengertian terhadapku, walaupun itu bukan kak andre setidaknya inilah yang diberikan Tuhan kepadaku. Kak andre memberi selamat kepadaku karna berhasil move on darinya, tapi walaupun kami tak bisa bersama kak andre masih tetap milikku, dan aku selalu mengingat itu jauh dalam pikiranku.
   Terimakasih atas luka yang kau beri, ini menjadikanku lebih dewasa lagi, lebih mempertebal dinding hati agar tak mudah tersakiti, terima kasih kak andre yang mau memberi goresan warna dikehidupanku ini.