Minggu, 06 Juli 2014

Jangan harapkan aku lagi

Dua tahun lamanya aku menjalin kasih dengannya. Dia adalah sesosok pria yang mampu membuat kehidupanku menjadi berubah lebih baik, tetapi dia jugalah yang membuat hidup ini melemah tak berdaya.

Jarak rumahku dan rumah kekasihku memakan waktu selama dua jam dalam perjalanan. Kami jarang sekali bertemu, bisa dibilang hubungan kami layaknya LDR karena untuk bertemu saja susahnya minta ampun. Namaku sendiri adalah tiara, dan nama kekasihku revaldi. Kami memulai hubungan kasih tanpa haru bertatap mula terlebih dahulu, kami berkenalan lewat sosial media, lebih tepatnya twitter. Itupun aku dikenalkan oleh temanku sendiri, tika namanya. Setelah kurun waktu empat bulan kami menjalin kasih, aku dan aldipun memutuskan untuk bertemu, kami janjian di salah satu tempat makan di sekitar tempat tinggalku. Anehnya dia menemuiku dengan membawa temannya, ya mungkin karna jarak yang lumayan jauh ke tempatku itu makanya dia membawa teman. Saat pertama kali bertemu aku sudah dikagetkan olehnya, bagaimana tidak? Tiba-tiba dia langsung mencium keningku tanpa permisi terlebih dahulu. Aku kaget bukan kepayang, rasanya melayang, dan bibirku menyimpulkan sebuah senyuman.
"Aldiiii, apa-apaan sih? Malu tau!" Kataku.
"Ya tak apalah, namanya juga sama pacar sendiri, emangnya ada yang marah gitu? Hayo siapa yang marah rupanya? Tak adakan?" Jawabnya sambil meledek.
"Kalau kalian berdualah, tak ada segannya sedikitpun samaku. Akukan juga pengen" sambut teman aldi secara sepontan.
"Hahaha, suruh siapa kau masih jomblo aja" jawab aldi kepadanya.
Kami bertiga makan malam bersama sambil mengobrol-ngobrol terkadangpun obrolan kami malah meledek temannya aldi yang masih jomblo itu.
Selesai makan dan mengobrol jam menunjukkan pukul 21.30 kini waktunya aku untuk pulang kerumahku. Aldipun mengantarkanku pulang menggunakan sepeda motorku dan temannya membuntuti kami dari belakang. Setelah sampai dirumahku aldi langsung pamit untuk pulang kerumahnya.

Dalam hubungan kami, kami berjumpa sangatlah jarang, mungkin karena jarak dan kesibukan masing-masing, dengan begitupun aku makin sayang dan lebih sayang lagi kepadanya, begitu pula dengan dirinya.
Pada sampai dimana usia hubungan kami mau beranjak dua tahun aldi malah bersikap aneh, dia mulai mencari masalah bahkan dia mau memutuskan diriku dengan bertemu langsung denganku. "Apakah dia bosan terhadapku? Apa dia lelah sama hubungan ini? Atau dia punya yang baru?" Kata itulah yang pertama kali menghantui pikiranku.
Aku menolak untuk berpisah dengannya, aku menangis dihadapannya, kupukuli dirinya hingga diapun tak bisa menolak pukulanku itu. Kutanyakan "kenapa? Kenapa al? Kenapa kau tega? Kita juga slama ini tak ada masalah, kalaupun ada kita selesaikan dengan baiklah, jangan kamu minta putus denganku seperti ini". "Sudahlah ra, aku lelah. Baiklah kita jalani sajalah lagi" jawabnya ketus.
Mungkin dia tak jadi putus denganku karna aku menangis langsung dihadapannya, itulah senjata wanita, lelaki takkan tega melihat wanitanya menangis.
Hari demi hari berlalu dan hubungan kamipun menjadi baik lagi seperti semula, walaupun dulu ia pernah ingin memutuskanku tanpa sebab. Karna aku wanita, aku mencintai dengan tulus, dengan semua rasa dan keyakinan yang ada. Mungkin berbeda dengan lelaki ia mencintai dengan menggebu, pada akhirnya terkadang ia bosan dan ingin melupakan.

Suatu hari aku mendapati kabar bahwa ibu kekasihku aldi sedang sakit dan dirawat dirumah sakit. Aku datang menjenguk ibunya dengan membawa beberapa kantong pelastik yang berisikan makanan.
Setelah menjenguk ibu kekasihku itu aku diantar menuju parkiran rumah sakit tersebut, dalam perjalanan aldi berkata "ra, udahan ya". "Udahan apa sih al?" Jawabku. "Udahan kita berakhir" katanya, "jangan bercanda lagi deh al" jawabku sambil sedikit tertawa. "Aku serius ra, sebenarny....ehmmn, aku mau jujur samamu" kata aldi. "Jujur kenapa"tanyaku. "Kita putus saja! Aku sudah kembali dengan mantanku" katanya lagi. "Mantan siapa? Si fika itu?" Tegasku. "Iya ra, maaf. Jangan nangis lagi karna aku, aku gak mau liat kamu nangis. Aku sebenarnya capek menutupi ini ra!" Kata aldi. "Tega kau al! Tega kalian berhubungan lagi dibelakangku, cukuplah jangan lagi kau dekati aku! Oke, aku pergi, jangan pernah kau hubungi aku lagi! Kalian berdua itu binatang!" Jawabku sambil berlari. Aldipun tak mencegah kepergianku, mungkin dia benar-benar ingin melepasku.

Tiga minggu berlalu sejak kejadian itu aldi tiba-tiba saja menghubungiku, katanya ia ingin bertemu. Puluhan kali ia mencoba menelepon, dan puluhan kali ia juga mengirim pesan kepadaku. Hati wanita mana yang tidak terluka jika ditinggalkan sewaktu masing sayang? Kini aku sudah mulai melupakannya, eh malah dia sibuk menghubungiku. Tapi dengan begitupun aku luluh, saat ia kembali menelponku kini aku mengankatnya.
Aldi: tiara
Aku: ya, kenapa?
Aldi: maafin semua kesalahanku, aku menyesal
Aku: simpan maafmu itu, aku tak ingin mengumpulkan lagi kata maaf darimu
Aldi: jangan marah lagi denganku, sungguh kini aku menyesal
Aku: aku tak marah padamu, aku hanya ingin kau tak lagi menghubungiku
Aldi: aku rindu ra
Aku: tak, aku tak pernah rindu lagi terhadapmu, sudahya.
Akupun mematikan telepon itu.

Sejak kejadian itu aku mulai mentertawakannya, mulai berhenti menangis untuknya. Karna aku tahu di kehidupab mendatang akan ada pria yabg terbaik untukku. Aldi sudah memiliki kekasih yang baru, tetapi dia masih sayang kepadaku. Apa itu salahku? Rasaku tidak! Dia yang terlebih dahulu mencampakkanku hingga aku terpuruk dan beranjak untuk bangkit dan lebih semangat lagi.

Sesalmu akan berujung selamanya dan kebahagiaanku akan kuraih kedepan dan bahagia selamanya. Akibat perbuatan akan ada balasannya, rindui dan sayangi saja aku terus, itu tak masalah, yang mungkin akan kupermasalahkan adalah jika aku kembali merinduimu dan menyayangimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar