Kamis, 03 Juli 2014

Ternyata suamiku bersama wanita jalang

   Pada keheningan malam yang semakin syahdu, aku melirik jam dinding yang terus saja berputar. Ia enggan berhenti pada waktu tertentu, padahal aku sedang menunggu suamiku pulang dari kantornya. Duduk sendiri dimeja makan dengan hidangan yang tak lagi hangat dan perlahan mulai mendingin, aku melamuni makanan itu tanpa memankannya padahal kalau diingat-ingat perutku sudah satu jam yang lalu berbunyi.
   "tok tok tok" pintu rumah bergema, barang kali suamiku sudah pulang, aku melangkahkan kaki untuk membukakan pintu itu. "Maaf sayang aku telat, tadi aku bertemu teman lamaku sewaktu SMA dan kami memutuskan untk makan malam bersama, kau tidak marahkan sayang?" Sambut suamiku sambil mencium keningku. "kenapa tak menghubungiku lebih dahulu? Aku sudah menunggumu mas, sejak sejam yang lalu. Aku lapar, temani aku makan mas" sahutku. "sayang, makanlah sendiri, aku lelah ini ingin istirahat dulu" jawabnya sambil berlalu ke kamar. Aku melangkahkan kakiku dengan mengumpat sendiri tentang suamiku itu, tak tahukah dia gara-gara dia aku kelaparan. Aku kembali ke meja makan dan melahap makanan itu sendirian.

   Jam menunjukkan pukul 21.45, aku lelah seharian membersihkan rumah karna baru kemarin malam aku dan suamiku pulang dari kampung tempat ibu mertuaku tinggal. Aku dan suamiku sudah menikah enam tahun yang lalu, tapi kami belum juga diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengurus momongan, entahlah padahal aku dan suamiku sudah ingin sekali memiliki momongan, terlebih lagi para orang tua kami yang sudah memojokkan kami berdua dengan pertanyaan , "kapan ibu punya cucu dari kalian?" Dengan mendengarnya hatiku rasanya tersayat-sayat.

   Entah apa yang salah dari kami berdua, kami sudah meminta pada yang kuasa. Rasanya akupun ingin menyalahkan Tuhanku, sebab apa? Ya sebab mereka yang diluaran sana tanpa ikatan suami istri dengan berbuat layaknya suami istri dapat memiliki momongan, padahal mereka tak ingin. Sedangkan kami yang sudah sah, dan tiap hari meminta agar diberi momongan, toh sampai sekarang tak diberi juga.

  Dua hari lagi suamiku pergi dinas keluar dari kota tempatku tinggal, tepatnya suamiku disana berada selama seminggu. Yah, sepi lagi pastinya hariku, sedangkan ada dirinyapun terkadang aku masih kesepian, nah ini dia pergi selama seminggu rasanya seperti patung yang disirami air hujan tanpa bisa berbuat apa-apa.

   Hari itupun tiba, dimana suamiku berpamitan padaku untuk pergi dinas bersama teman sekantornya, tak ada kecurigaan terhadapnya, toh selama inipun kami tak mempermasalahkan tentang pekerjaannya yang sering meninggalkan rumah tempat kami tinggal. Ya, aku sudah terlalu sering ditinggalnya untuk urusan pekerjaannya, padahal dulu sewaktu kami belum menikah , ia berjanji tak akan meninggalkanku walau seharipun, itulah angan sewaktu muda yang kan sirna terhembus masa.

   Aku kembali menjalani rutinitasku sebagai seorang istri yang ditinggal suaminya pergi untuk urusan pekerjaan.


  Setiap pagi pergi ke warung membeli sayuran untuk sejenak menahan lapar. Tapi kali ini berbeda tak seperti biasanya, para ibu tetanggaku sepertinya sedang membicarakanku dari belakang. Aku tak tahu apa yang mereka perbincangkan, hanya saja setiap aku datang mendekat mereka cepat menutup mulutnya dengan rapat.

   Perbincangan para ibu tetangga itupun setiap paginya semakin kurasakan, ingin aku menegornya tapi aku takut nantinya malah salah paham. Hingga hari keesokannya ada salah satu yang keceplosan berkata padaku seperti ini "hey buk, itu suami ibuk kok tiap malam pulangnya kerumah buk tania?" Tanyanya sambil buru-buru menutup mulutnya yang keceplosan berbicara. Akupun menyahuti perkataan ibu itu "apa-apaan sih buk, suami saya lagi dinas diluar kota, bagaimana bisa! Ibuk salah lihat nanti". "Kok salah lihat sih buk, nih semua orang yang ada disini juga melihatnya sejak 3 hari yang lalu" jelasnya. "iyakah buk?" Tanyaku sambil berlari kerumahku.

  Sesampainya dirumah aku langsung menghubungi suamiku dan menanyakan sebenarnya dia ada dimana, tega sekali dia membohongiku sambil selingkuh pula. "mas, kamu dimana?" Tanyaku. "ini lagi survei lokasi pembangunan sayang, ada apa?" jawabnya. "kamu jujur mas, kamu dimana? Kamu selingkuh mas?" tanyaku sambil meneteskan air mata. "kamu bicara apa sih sayang? Jangan berpikiran seperti itulah, aku disini juga kerja untuk kamu! nanti lagi mas telpon, mas lagi kerja ini" tegasnya. Akupun menangis sejadi-jadinya, benarkah suamiku selingkuh?

Benarkah dia punya simpanan? Masasih dia selingkuh, dengan janda pula! Apa karna aku gak bisa ngasih keturunan mas? Apa karna itu? Kalimat-kalimat itulah yang menghantui pikiranku.

   Kubulatkan tekadku untuk memastikannya apakah benar apa yang diucapkan para tetanggaku itu. Jam menunjukkan pukul 19.30 aku mulai menyusun strategi untuk mengintipnya, aku bersembunyi dibalik pagar besi tempat wanita jalang itu tinggal, setengah jam aku menunggu tak ada hasilnya, dan setelah kutunggu selama 3jam lagi dengan ditemani nyamuk-nyamuk yang hinggap ditubuhku yang sekedar inginkan darahku akhirnya kudapati hasilnya, mobil sedan berwarna hitam dengan plat 324A itu muncul, ternyata benar itu suamiku dengan mobil yang dikendarainya. Disitu hatiku langsung menangis terisak-isak, taga kau mas! Tegaaaa!. Disitu aku masih bersembunyi, melihat kelakuan mereka berdua, sengaja aku berdiam diri terlebih menenangkan pikiran dan hati ini. Sampai setibanya setelah suamiku masuk kedalam rumah wanita jalang itu, akupun memberanikan menyudahi acara perselingkuhan mereka. Ya, aku mengetuk pintu rumah itu dan wanita jalang itupun membuka pintu dengan tangan gemetar dan wajah pucat lebam. Aku berteriak sambil menjambaki rambut wanita itu, tega benar dia merebut suami tetangganya sendiri. Tonjokkan dari tangankupun akhirnya mendarat di bibirnya, dengan bibirnya yang perlahan mengeluarkan darah, saat itu pula suamiku keluar dari salah satu kamar yang ada dirumah itu. Suamikupun berusaha melarai pertengkaran kami, tapi alih-alih dia ingin melerainya malah ku luncurkan lagi sebuah tonjokkan ke wajahnya. Aku menangis teredu sambil memukul apa saja yang ada di hadapanku.

   Setelah suasana agak tenang, suamiku berkata "maaf, aku seperti ini juga karnamu! Kenapa kau tak bisa memberiku anak? Padahal aku ingin memilikinya". "jadi perkara itu kau selingkuh dengan wanita jalang ini?" Jawabku sambil menunjuk wanita itu. "Tega mas, kau benar-benar tega! Mana janjimu yang dulu slalu ingin bersamaku? Apapun itu keadaanku?" Tanyaku lagi sambil kakiku ingin menunjang perut perempuan itu, tapi dengan segera suamikupun menghalangi tunjanganku yang ingin kusematkan. "Jangan kau sakiti dia! Dia sedang mengandung anakku!" Teriak suamiku. Wanita jalang itupun hanya tersenyum simpul sambil berbisik kepadaku "mana ada suami yang tahan sama istri mandul kek kamu, hahaha". Sungguh picik sekali perbuatannya. "aku minta ceraiiiii" teriakku membahana sambil mengeluarkan air mata. " baik, jika itu maumu, aku turuti!  akupun sudah muak denganmu!" Jawabnya.

   Sejak kejadian itu, satu bulan kemudianpun kami resmi bercerai tanpa mempersoalkan harta gonogini kami, rasanya aku ingin menyudahi hidup ini sebab lelaki yang dulu begitu menyanjung, menganggumi, serta aku dianggap segala untuknya kini malah mencurangi kata-katanya sendiri. Betapa tak hancur hati wanita diperbuatnya, perkara tak dapat memiliki momongan saja. Kini aku hanya berdoa dan pasrah kepada Tuhanku saja, dialah tempatku menangis dan mencurahkan segala isi hati ini, semoga suami dan wanita itu mendapat ganjaran akibat perbuatannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar