Karena yang disisakan mati adalah ilusi tentang kenangan dan angan,maka selagi masih ada napas terhembus hendaklah ucapkan apa yang ingin disampaikan.
Sabtu, 05 Juli 2014
He isn't my boyfriend, but he's still mine
Pagi yang cerah menambah semangatku tuk memulai hari ini. Ini adalah dimana hari untukku mulai memasuki sekolah yang baru, tepatnya aku kini sudah SMA. Kata orang sih masa SMA itu masa yang tak akan pernah terlupakan, masa yang bakal ngangenin, masa dimana mulai mencari jati diri, dan masa blablabla lainnya. Awalnya aku sendiri tak percaya, tapi belum dijalani kok udah beranggapan seperti gitu. Haha, aku mulai mentertawakan diriku sendiri.
Pagi-pagi sekali aku sudah sibuk mengurusi peralatan sekolahku. Maklumlah, baru masuk SMA pastikan ada acara MOSnya. MOS itu nyeribetin, yang kutakutkan nantinya aku dipermalukan sama kakak-kakak senior didepan teman baru, diledekin, dikerjain, dan blablabla. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pusing sendiri, tapi pengennya nanti ada gitu kakak-kakak senior yang ngeMOS ganteng, pengennya sih, namanya juga cewek, pasti gk luputlah dari pemikiran pria-pria ganteng.
Hidupku sederhana, tetapi dengan begitupun aku sudah disuruh untuk lebih dewasa dan mandiri, bagaimana tidak disuruh mandiri lah mau masuk SMA saja disuruh pergi ke kota. Dikota ngekoslah, makan sendirilah, jauh dari orang tualah, temen juga belum ada, ya namanya juga wanita dari desa tapi walaupun aku dari desa akusih enggak terlalu kampungan ya, yang kalau liat keanehan kota langsung riyuh sendiri.
Pagi itu aku pergi kesekolah dengan membawa peralatan MOS yang sangat memalukan, disuruh bawa petelah, inilah, itulah, uuh rasanya gimana gitu. Jarak kosan ku dengan sekolah tidak begitu jauh, akusih kesekolahnya cuman berjalan kaki. Kalau mau naik ojek, ya sayang duitnya dikasih sama orang tua juga pas-pasan. Lagiankan kesekolah mau belajar, bukan malah mau bergaya. Tiba disekolah tepatnya pukul 05.30 kami sudah dibariskan oleh kakak senior di Sma itu, kulirik kekanan kekiri tak ada satupun yang ku kenal, dalam pikiranku berkata "mampusnih, gakpunya temankan aku, duh Tuhan mau nangis ajalaah". "Yaelah kakak seniorku kok gk ada yang ganteng sih, inimah namanya serigala semua, cewek semua tapi yaallah mulutnya pedes bener"gumamku. Dan acara siksa menyiksapun dimulai, mulai dari meragain gaya hewanlah, sampek nembak cowoklah, duh malunya. Untung saja aku tak terlalu menonjolkan diriku, kalau enggakkan bisa kenak kerjain sama mereka. Mos itupun berlangsung selama tiga hari, sampai pada hari terakhir sewaktu istirahat, ada seorang lelaki lewat dihadapanku, bibirku tiba-tiba berucap "yaTuhan, sempurna". Seketika lelaki itu menghadapku dan berkata "apa yang kau bilang tadi?", "ehm, itu, eh enggak apa-apa kok kak" jawabku sambil menundukka kepala. Lalu lelaki itupun berkata "awasya, jangan main-main samaku!", seketika aku tertunduk lemas. "ya Tuhaaan, sumpah itu ganteng, keren, cakep, ah segalanyaaaa, jadi pengen macarin" pikirku. Ternyata selidik punya selidik memang benar yang ada dipikiranku, dia adalah lelaki yang populer disekolah itu.
Setelah MOS selesai kamipun para siswa/siswi baru esok harinyapun mulai belajar selayaknya pelajar. Berhubung sudah dibagi kelasnya sewaktu MOS kemarin itu, jadi hari ini fokusnya sudah belajar. Alhamdulillah, aku mendapati teman sebangku yang baik dan parasnya terlihat lumayan cantik, ya tidak berbeda jauhlah denganku. Dulu sewaktu smp pun aku menjadi idola para siswa diskolahku, ya berarti tampangku tak terlalu buruk untuk dipandang. Disitu kami mulai dengan memperkenalkan diri secara bergantian, wali kelasku seorang perempuan, masih muda dan guru seni pula. Bersyukur nih punya wali kelas yang masih muda karna pastilah mengerti jiwa muda para muridnya nanti.
Hari berganti demi hari, aku kok belum bertemu juga ya sama kakak kelas yang kemarin itu, itu adalah lelaki yang pertama kali membuat jantung ini berdetak sangat kencang, yang bisa membuat bibir ini berbicara secara spontan, duh bahagianya hayalanku andai aku bisa bertemu dengannya saat ini. Aku dan teman sebangkuku heni pergi kekantin saat istirahat tiba, disana kami memesan dua mangkok bakso dan teh botol untuk sekedar mengganjal perut ini. "Sya, tolong ambilin kerupuk dong disitu" minta heni kepadaku, aku akrab dipanggil oleh teman-temanku dengan sebutan tasya. "Dimana? gak ada kok" jawabku. "Itu dimeja sebelah, aku lagi pengen kerupuk nih, tolongya. Kan kamu yang dekat sama meja itu"sahut heni. "hen, serem ih itu ada kakak kelas, malu ah, udahlah makan yang seadanya aja" bisikku. "Yaelah syaaa syaa" teriak heni. Seketika orang yang ada dimeja sebelahpun mengarahkan perhatiannya ke arah kami berdua. "yaampun, itukan si pria tampan, meleleh hati aku hen" bisikku ke heni. "loh jadi itu yang selama ini kau bilang pria tampan? Haha itusih tetangga aku kali syaaa, kenapa gak bilang dari kemaren-kemaren cobak?" jawabnya. "iya hen? Mas..." tiba-tiba perkataanku terpotong karna pria tampan itu berkata "eh si heni disini", "iya kak, eh ini kak kenalin temen baru aku Bella Anantasya namanya" jawab heni. "hei tasya, andre" sahutnya sambil tangannya mengadah kepadaku, akupun langsung tanggap menanggapinya "eh iya kak andre, tasya". Perkenalan kamipun dimulai dari situ berkat teman baruku heni.
"Teet teet" bel tanda masukpun berbunyi, kamipun segera kembali ke kelas walaupun aku masih ingin memandangi kak andre, duh sejuk rasa pemikiran melihatnya. Apa aku sedang jatuh cinta? Haha aneh banget sih aku ini yang biasanya gak pernah seperti itu kalau melihat lelaki, tapi ini beda gak seperti biasanya.
Setiba pulang sekolah, aku menyuruh heni untuk bertamu ke kosanku, sekalian mengerjakan pr matematika. Aku dan henipun pulang bersama dengan berjalan kaki, dan sekali lagi aku melihat ka andre lewat, "heniii, mauu" ucapku kepada heni. "Oalah syaasyaaa mau sama kak andre? Nanti aku comblangin dah, gimana? Mau?"jawab heni. "Is, jangan bercandalah hen" tegasku. "Loh kok bercanda sih sya, seriusan iniloh, haha" jawabnya kembali. Sepanjang jalan menuju kosanpun kami hanya memperbincangkan soal kak andre, ya kuakui mungkin aku sedang jatuh cinta.
Waktu ke waktupun mulai berlalu, yang dulunya kehidupan hati ini hanya biasa-biasa saja tapi kini mulai bernuansa, ibaratkan sepucuk bunga yang kian lama bermekaran, ya hatikulah saat ini bergema seperti itu. Semakin lama aku dan kak andrepun semakin akrab saja, mulai dari saling tukaran nomor telepon, sampai pernah jalan pulang dianterin naik motor kak andre. Duh senangnya, andai ini berlanjut dan terus berlanjut kedekatan kami layaknya sepasang kekasih, haha gumamku. Kak andre sendiri ternyata sudah punya kekasih, hancur berserakan tak dapat lagi rasanya disatukan kepingan hati yang berantakan mengetahuinya. Heni memberitahukan kepadaku setelah heni bertanya langsung ke kak andre sebenarnya dia sudah punya kekasih atau belum, ternyata sudah mempunyai. Lalu henipun bertanya lagi kepada kak andre "kak, kakak kan udah punya pacar, terus kenapa masih deketin si tasya? Kakak tau sendirikan kalau si tasya ada hati sama kakak. Kakak jangan mainin perasaannya ya", "bukan gitu hen, kakakpun sebenarnya punya rasa samanya, tapikan kakak udah punya pacar jugak, kakakpun bingung hen, mau mutusin pacar kakak, kakak takut pacar kakak nanti sakit hati karna kakak hen, kakak bingung hen bingung" jawab andre. "Loh kakak yang lucuanloh, udah tau punya pacar tapi masih aja deketin si tasya, kan kakak sendiri kan yang tanggung akibatnya ini, bingung sendirikan sama perasaannya, ah entahlah bingung aku liat kakak" jawabnya lagi. "Kakak sayang kali sama tasya semenjak kedekatan kami selama hampir tiga bulan belakangan ini hen, kakak nyaman samanya. Tapi dilain sisipun kakak udah nyakitin perasaan pacar kakak kalok dia tau kakak sama tasya itu dekat, bahkan dekat kaliloh hen, kakak gak bisa kalok mau lepasin tasya gitu aja"sahut kak andre, "sekarang kakak pilihlah mau sama tasya apa lanjutin hubungan kakak sama pacar kakak itu? Jangan dua-duanya kakak embat! Tau ada karma kan kak? Lebih baik sakit sekarang, dari pada nyesal nantinya" jawab heni. "Iya hen, iya" keluhnya.
Anehnya setelah kak andre memberi tahu kapada heni kalau kak andre sudah punya pacar pada malam harinya setelah itu kak andre datang ke kosanku, menemuiku katanya sekedar ingin berbincang kepadaku. "Tasya?" tanya kak andre. "Iya kak, kenapa?" Jawabku, "maafya kakak udah ngedeketin kamu selama ini, maaf juga kalau tasya pernah sayang sama kakak, kakakpun sayangnya sama tasya" jawabnya, "lah terus kenapa kak? Kakak kan udah punya pacar, tapi kenapa masih deketin tasya kak? Kakak tau gak perasaan tasya saat ini seperti apa? Hancur kak, hancur kalipun" jawabku merintih. "Maaf tasya maaf, kakak sebenarnya sayang kali samamu setelah banyak hal yang kita lalui akhir-akhir ini. Tapi kakak sadar sya, kakak gak baik untukmu, kakak cuma laki-laki yang berengsek, gak guna, maafya" seru kak andre sambil memengang kedua tanganku. "Kak, aku sayang kali sama kakak, jangan jauhin akulah, apa gak bisa kita bersama?" Tanyaku, "dek, kakak gak bakal jauhin tasya kok, jangan nangis gitu, diluaran sanah banyak cowok yang lebih baik dari kakak, tasya silahkan anggap kakak seperti abang kandung sendiri, silahkan sya! Tasya boleh ngadu kok dipundak kakak, pundak kakak akan selalu ada buat tasya, percayalah sya. Kakak tau yang kakak lakuin slama ini salah, tapi kakak harus kembali lagi sama pacar kakak, maaf kalok kakak udah nyakitin hati tasya, maaf sya" jawab kak andre. "kaaak" seketika kepalaku sudah tersandar di pundak kak andre sambil menangis tersedu, kak andrepun mulai menenangkanku. "Sya, i'm not your boyfiend, but i'm still yours syaaa" kata kak andre, "kakak gak bohong kan? Walaupun kita gak ada hubungan kita masih bisa sama kan? Masih bisa main bersama kan?"tanyaku. "Bisa sya, kakak akan jadi milikmu dalam hal yang berbeda nantinya" jawabnya. Perlahan akupun mulai bisa memahaminya, tangisku yang pecah kini mulai mereda.
Pada akhirnya aku tersadar, mencintai tak harus saling bersama, merindukan tak harus saling merindu, dan keinginan untuk memiliki tak harus selamanya akan didapat. Aku meyakini kata kak andre bahwa "he isn't my boyfriend, but he is still mine" . Apakah itu akan terwujud seiring berjalannya waktu, akupun tak tahu. Kini aku hanya bisa pasrah saja, berharap yang terbaik untuk kami, yang menjadikan kami lebih dan lebih untuk mendewasakan diri. Itu menjadi pelajaranku sewaktu muda. Akhirnya setelah satu tahun lamanya aku mendapati pria yang baik, dan pengertian terhadapku, walaupun itu bukan kak andre setidaknya inilah yang diberikan Tuhan kepadaku. Kak andre memberi selamat kepadaku karna berhasil move on darinya, tapi walaupun kami tak bisa bersama kak andre masih tetap milikku, dan aku selalu mengingat itu jauh dalam pikiranku.
Terimakasih atas luka yang kau beri, ini menjadikanku lebih dewasa lagi, lebih mempertebal dinding hati agar tak mudah tersakiti, terima kasih kak andre yang mau memberi goresan warna dikehidupanku ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar